Kartu kredit adalah alat pembayaran praktis
yang menggunakan kartu khusus dengan barcode yang telah ditanam ke dalamnya.
Layaknya seperti alat pembayaran pada umumnya, kartu kredit kerap menjadi incaran
orang-orang tidak bertanggung jawab. Praktek carding
adalah salah satu tindak kejahatan yang melibatkan penyalahgunaan kartu kredit ini.
Menurut Wikipedia sendiri Carding adalah salah satu tindakan memperdagangan kartu kredit,
rekening bank dan informasi pribadi lainnya secara online. Carding juga mencakup praktik pencucian uang dan penipuan layanan[1].
Di dunia khususnya di negara
Indonesia telah terjadi salah satu kasus carding
yang merugikan pihak pengguna kartu kredit dengan total sebesar 500 juta rupiah
[2].
Pada akhir Juni tahun 2017 lembaga Identity Theft Resource(ITRC) dan cyberscout melaporkan bahwa telah terjadi pencurian
791 data di Amerika Serikat. Data tersebut meningkat sebanyak 29
persen dari tahun sebelumnya. Jika terus berlanjut maka diperkiran oleh ITRC pada
akhir tahun 2017 kasusakan meningkat hingga 1500 [3]. Berdasarkan data
tersebut dapat dipastikan bahwa praktik carding
merupakan masalah serius yang perlu ditangani.
Berhasilnya pengambilan data oleh hacker ini disebabkan karena sistem keamanan kartu kredit
yang digunakan saat ini masih tergolong lemah. Metode penggunaan kartu kredit yang harus mencari titik atau tempat penyedia layanan serta mengharuskan memasukkan
PIN di tempat menjadi salah satu faktor utama.Bahaya yang timbul lainnya adalah praktik pencurian
data oleh karyawan atau pramusaji saat melakukan transaksi di restoran atau toko.
Untuk mengatasi masalah carding salah satu cara yang dapat diterapkan adalah melalui penggunaan teknologi AR(Augmented Reality) dan biometrik. AR dapat digunakan untuk memperkuat sistem keamanan kartu kredit dengan mengkombinasikan teknologi biometrik di dalamnya.
Dengan AR maka pengguna tidak perlu menggunakan cara konvensional seperti mendatangi titik transaksi
dan memasukkan PIN, tetapi cukup menggunakan ponsel smartphone yang dilengkapi fitur virtual
tour.
Fitur tersebut memungkinkan pengguna dapat mengakses informasi
digital dari suatu tempat atau bangunan. Fungsi keamanan biometrik akan muncul ketika virtual tour diaktifkan dan
saat pengguna ingin melakukan sebuah transaksi di dalamnya seperti memesan tiket wisata.
Keamanan biometrik ini memanfaatkan sensor yang terdapat dalam smartphone. Sensor dapat berupa deteksi menggunakan retina,
deteksi sidik jari, maupun deteksi suara [4]. Dengan adanya keamanan biometrik maka pengguna kartu kredit tidak perlu khawatir karena
data diproteksi menggunakan ciri fisik pengguna itu sendiri. Selain itu, Augmented Reality membuat pengguna tidak perlu mengeluarkan kartu kredit,
cukup menggunakan ponsel smartphone sehingga transaksi berjalan dengan mudah.
Daftar Pustaka
[1]https://en.wikipedia.org/wiki/Carding_(fraud)
[2]https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-3927140/pelaku-spamming-dan-carding-dibekuk-bobol-kartu-kredit-rp-500-juta
[3]https://www.creditcards.com/credit-card-news/credit-card-security-id-theft-fraud-statistics-1276.php
[4]https://www.creditcardreviews.com/blog/using-augmented-reality-and-biometrics-for-credit-card-transactions
0 komentar:
Posting Komentar