Ketika Takdir Berkata
(tangan tak akan mampu untuk menjamah)

Setiap kali kumemandang foto itu, masih teringat
jelas kenangan kenanganku bersamanya. Kenangan yang tak bisa kulupakan begitu
saja. Aku masih teringat akan senyum yang selalu membuatku tenang, gaya bicara
yang membuatku tertawa serta sifat setia yang selalu membuatku rindu kepadanya.
Aku seperti dihantam sesuatu yang aku tahu sangat menyakitkan bagiku. Aku tahu,
aku mungkin Tidak bisa bersama dengannya lagi. Aku harus kuat menghadapi
kenyataan ini, mungkin ini memang sudah ditakdirkan tuhan kepadaku.
Saat itu aku masih duduk dibangku sekolah kelas 1
SMK. Pertemuanku dengannya berawal dari aku mengikuti ekstrakulikuler basket.
Aku akui pertemuan itu membuahkan awal sebuah cerita akan persahabatan dua
manusia yang paling indah. Hendra begitu aku memanggilnya, dia adalah seorang
yang jago dalam bermain basket. Hal itulah yang semakin merapatkan persahabatan
kita, dengan kemahirannya aku bisa belajar banyak dengannya akan permainan
basket ini. Aku sering sekali meminta bantuannya untuk mempelajari gerakan gerakan dalam basket. Setiap minggu aku
selalu mengajaknya kerumah untuk bermain basket dan bermain playstation karna
hal itu yang paling dia sukai.
“Hen kamu kedepan aku jaga benteng belakang” kataku menyuruh hendra
yang sedang melotot asik kearah layar televise nya.
“Ok Yan, kamu halangi musuh dibelakang ya” sahut hendra.
“Ok serahkan semuanya kepadaku” jawabku.
Hari ke hari persahabatan kita makin rapat, hingga suatu hari aku
mendengar idol grup JKT48 mau menggelar konser di kota jember. Awalnya aku ragu
mau mengajak Hendra melihat konser tersebut, karena takut Hendra akan kena
marah oleh ayahnya.
“Begini saja yan, bagaimana kalo kita menyusun rencana untuk pergi
melihat JKT48 tanpa diketahui oleh ayahku” tanyaku.
“Apa kamu yakin hen, kalo rencana ini akan berjalan dengan lancar?”
jawab hendra dengan mimic wajah serius.
“Yakin aku yan” jawab hendra dengan sangat percaya diri. Berhari hari
kita menyusun rencana dengan begitu teliti agar tidak diketahui oleh ayahnya
hendra. Tiba waktunya konser akan di mulai,
“Yah, hendra pergi kerumah iyan ya?” tanya hendra
“Ke rumah Iyan apa mau nonton konser?” tanya ayahnya
“Ke rumah Iyan yah” jawab hendra
“Tapi kok bawa tas segala?” tanya ayahnya ragu
“iiii... ini mau bantu iyan mengerjakan tugasnya yah” jawab hendra gelisah
Berangkatlah hendra kerumahku dengan perasaan gelisah.
“Gimana hen, berhasil kamu lolos dari ayahmu?”
“Beres, tapi nanti pulangnya jangan sampai malam ya”
“Oke deh beres”.
Kemudian mereka berdua berangkat dengan menaiki bus di terminal.
Konser akhirnya dimulai, Aaaa... Yossa Ikuzo !!. Tiger, Fire, Cyber, Fiber,
Diver, Viber, Jya Jya !!, terdengar teriakan para penonton memenuhi area
konser. Aku berdiri diatas panggung yang selalu ku dambakan di tengah eluan
tepuk tangan dan juga semangat..., idol grup JKT48 menyanyikan lagu hitsnya.
“Keren Hen” teriaku dalam keriuhan konser.
“Keren sekali yan” jawabnya
“Hen lihat!”
“Apa?” jawabnya spontan.
Melody melody.... teriakan semua penonton memangil member paling
kawaii di JKT48. “Melody... ganbateeee” teriakku ketika melihat seorang Melody
datang.
“Yan, santai aja” kata Hendra.
Berjam jam kami menonton konser hingga tak terasa hari sudah sore.
“bagi para penonton, hari ini pada pukul 20.00 WIB akan diadakan handshake
festival, jangan sampai dilewatkan yaaa!” kata melody salah satu member JKT48.
“Hen, gimana? Ayo kita ikuti acara ini, plisss” ajakku.
“Tapi Yan, kan aku sudah janji tidak pulang sampai larut malam” jawab
Hendra
“Plissss” kataku memohon seperti layaknya anak kecil meminta balon.
“Ok deh” jawab Hendra dengan tersenyum.
Sekitar pukul 21.00 acara
handshake festival telah selesai dan bergegaslah kami untuk pulang, sesampainya
dirumahku hendra langsung berpamitan untuk pulang. Keesokan harinya disekolah,
aku biasa jajan di kantin kebetulan di sana ada hendra.
“Woy, kok ngelamun saja” kataku membuyarkan lamunannya.
“Ya nih aku tidak diberi uang saku, gara gara aku kemaren pulang
malam” jawab Hendra sedih,
“Maafkeun, ayo makan aku bayari deh” ajakku.
“Enggak terima kasih” jawab Hendra pendek.
“Ealah ini anak, udah tahu lapar masih ninggi in ego. Ayolah nggak apa
apa” rayuku
“Ya udah kalo maksa, aku mah mau aja” jawabnya
“Lahh, dasar laki laki labil hahaha”ejekku.
Sepulang sekolah aku hendak mengajaknya untuk bermain basket di
stadion, tapi dia menolak karena tidak di perbolehkan oleh ayahnya. Hingga
suatu hari aku pergi kerumahnya dan melihat dia dalam keadaan sakit.
“Hen tumben kamu lemah?” tanyaku sedikit mengejek
“Yee bukannya prihatin malah ngejek nih anak.” Katanya.
“Ya map hahaha” jawabku sambal tertawa.
“Aku lagi sakit nih, sorry ya
aku tidak bisa menemanimu bermain basket” jawab nya dengan terbatuk batuk.
Seminggu kemudian aku mendapat SMS dari Hendra. Ia
memberi kabara kalau ia harus pergi ke Singapura untuk berobat. Dalam SMS itu
Hendra memberitahu tentang penyakit yang dideritanya, ia menderita kanker
pancreas. Mendapat SMS tadi aku masih tidak menyangka kalo Hendra bisa sakit
separah itu, kalo dilihat kesehariaannya kelihatannya tidak mungkin sekali
terjadi kepadanya. Bulan demi bulan aku lalui sendirian tanpa di temani
sahabatku yang paling setia, hingga suatu hari aku mendengar Hendra masuk ruang
ICU. Aku kemudian langsung berdoa meminta kesembuhannya. Tiga hari kemudian aku
mendapat sebuah SMS dari adiknya Hendra.
“Kak Iyan maaf baru memberitahukan berita ini, kak Hendra sudah tidak
ada….. dia tidak kuat menahan penyakit yang di deritanya”.
Bagaikan di pukul dengan palu yang besar sekali yang tepat mengarah ke
jantungku dan aku langsung tidak sadarkan diri.
“dimana aku..., dimana Hendra ma?” tanyaku sambil meneteskan air mata
“Hendra sudah tidak ada yan, ihklaskan saja kepergiannya” jawab mamaku
“Tidak ma, hendra masih ada hendra masih ada ma” jawab ku dengan
menangis.
Keesokan harinya aku mengantarkan jenazah hendra ketempat
peristirahatan terkhir dengan mambaca kalimat la’ilah haillallah sebagai
kalimat terkhir kepadanya.
“Hen, kenapa harus begini, aku masih tidak bisa untuk jauh darimu aku
ingin sekali bermain basket dan bercanda denganmu lagi” kataku sambil menangis
didepan pusaranya.
“Sudahlah iyan ihklaskan dia, dia sudah tenang disana” ujar mamaku.
Dengan menangis aku pulang kerumah, mungkin aku tidak bisa bertemu
teman dan sahabat sejati seperti hendra lagi. Seandainya aku dapat mengulangi
waktu, aku mau lebih lama bersamanya tapi takdir berkata lain, hendra sahabatku
telah pergi ketempat yang paling kekal disana. Goodbye my best friend aku
selalu mengenangmu
0 komentar:
Posting Komentar