Atasi Fobia Ketinggian Dengan Virtual Reality



SurabayaFobia merupakan gangguan psikis yang sering dialami oleh manusia. Fobia membuat penderitanya mengalami ketakutan berlebih akan suatu hal. Ketakutan yang dialami oleh penderita merupakan suatu hal yang tidak lazim bagi orang lain. Acrophobia adalah salah satu fobia yang membuat penderitanya takut dan panik berada di tempat tingi. Dilaman IDNTIMES.com mengatakan bahwa acrophobia merupakan peringkat nomor 1 sebagai fobia yang banyak diderita oleh manusia. Sebanyak 23% dari total populasi dunia mengatakan sangat takut akan ketinggian.
Tingginya angka penderita acrophobia membuat para psikiater harus mencari cara untuk mengurangi angka tersebut. Dilaman halodoc.com mengatakan terdapat tiga cara untuk mengobati fobia ini. Metode pertama adalah menggunakan terapi perilaku. Terapi ini meminta penderita untuk membayangkan dan menceritakan apa yang ia takutkan. Metode kedua mengharuskan penderita untuk menghadapi fobianya tersebut. Metode terakhir adalah memberikan obat penenang kepada penderita.
            Seorang psikolog akan memberikan pengobatan dengan menggunakan ketiga metode itu. Kinerja psikolog sangat ditentukan dengan kondisi pasien. Jika pasien yang ditangani tidak bisa kooperatif maka pemberian pengobatan juga akan terganggu. Pasien yang tidak kooperatif  akan mempengaruhi durasi penyembuhan fobia yang dialaminya.
            Permasalahan itu membuat para pengembang teknologi menciptakan aplikasi untuk membantu kinerja para psikolog. Aplikasi ini menggunakan teknologi virtual reality. Virtual reality digunakan untuk menampilkan dunia maya yang dijadikan tempat untuk memberikan pengobatan. Metode penyembuhan dengan menggunakan virtual reality ini dapat langsung dirasakan oleh pasien serta reaksi yang diberikan pasien saat itu akan langsung direspon oleh psikolog. Metode ini memberikan kesan yang menarik yang mampu membuat pasien nyaman dalam melakukan pengobatan.
Menurut Dr Freeman yang dilansir dari inet.detik.com, efek gembira yang ada di dunia VR membuat program ini menjadi efektif, karena si pasien bisa diminta untuk melakukan aktivitas yang biasanya tak mereka lakukan di dunia nyata. "Anda melakukan hal yang tak mungkin anda lakukan di dunia nyata. Jadi ketika anda melakukan aktivitas yang lebih normal di dunia nyata, anda akan merasa nyaman ketika melakukannya," ujar Dr Freeman.

Referensi :


0 komentar:

Posting Komentar